Suatu hari di pegunungan tampaklah delapan wasu sedang
berjalan - jalan dengan para istri mereka. Di pegunungan itu terdapat pertapaan
Resi Wasistha. Salah satu dari mereka melihat seekor sapi milik Sang Resi yang
elok rupawan. Nandini nama sapi tersebut. Salah satu istri mereka tertarik
melihat keelokan sapi tersebut dan membujuk suaminya untuk membawa pulang sapi
itu.
" Istriku, sapi itu milik Resi Wasistha, penguasa
daerah ini. Tentu sapi ini bukan sapi biasa. Manusia akan abadi jika meminum susu
sapi itu. Tapi kita para dewa, kita telah ditakdirkan abadi. Lalu apa gunanya
sapi itu untuk kita? Lagipula Resi Wasistha akan marah melihat kita menuruti
hawa nafsu dan kita akan celaka ". Jawab sang suami.
" Tapi suamiku, aku punya teman seorang manusia yang
sangat aku sayangi. Untuknya lah aku memohon kepadamu, suamiku. Kita bawa lari
sapi itu sebelum Resi Wasistha muncul. Ayolah suamiku, ini sangat berarti
untukku ".
Akhirnya dengan segala bujuk rayu sang istri, Sang wasu pun
mengabulkan permintaan istrinya. Kedelapan wasu tersebut bersama - sama
melarikan Nandini dan anaknya jauh - jauh.
Resi Wasistha sangat terkejut tidak menemukan Nandini dan
anaknya ketika kembali ke pertapaannya. Padahal sapi itu sangat dibutuhkan
dalam upacara persembahan hariannya. Dengan segala kekuatan yoganya, Resi
Wasistha pun mengetahui apa yang terjadi dengan sapinya. Ia sangat murka dan
mengutuk para wasu yang telah melarikan sapinya. Ia mengutuk para wasu akan
terlahir ke dunia dan menjadi manusia.
Para wasu yang mengetahui mereka telah dikutuk oleh Resi
Wasistha menyesal atas perbuatannya. Mereka bersimpuh menyembah dan memohon ampunan
Resi Wasistha.
" Kutukku telah terucap dan akan terjadi pada saatnya
nanti. Wahai Prabhasa, wasu yang membawa lari sapiku, engkau akan menjalani
kehidupan panjang di dunia. Dan kalian wesu yang lain, setelah kalian terlahir
di dunia, kalian akan bebas dari kutukanku. Aku tidak dapat mencabut kutukanku
". Jawab Resi Wasistha dan segera berkonsentrasi melanjutkan tapa brata.
Mendengar jawaban Resi Wasistha, para wasu tersebut segera
menemui Batari Gangga dan memohon menjadi ibu mereka.
" Wahai Batari Gangga, sudilah kiranya Batari Gangga turun
ke bumi dan menikahi seorang pria yang bermartabat. Lahirkanlah kami, jadilah
ibu kami. Setelah kami lahir, buanglah kami ke Sungai Gangga, dan kami lepas
dari kutukan ".
Betari Gangga pun mengabulkan permohonan para wasu dan
segera turun ke dunia. Di dunia ia menjelma menjadi Dewi Gangga yang sangat
cantik.
Suatu hari Dewi Gangga bertemu dengan Maharaja Sentanu. Maharaja
Sentanu pun terpikat dengan kecantikan Dewi Gangga yang sangat luar biasa. Maka
ia pun meminta Dewi Gangga menjadi permasurinya.
" Wahai Paduka, aku bersedia menjadi permaisuri Paduka,
tetapi Paduka harus memenuhi syarat hamba "
" Apa syarat itu ? "
" Paduka tidak boleh menanyakan seluk beluk hamba,
siapa hamba, darimana asal hamba. Tidak ada yang boleh satupun mengetahui seluk
beluk hamba. Paduka tidak boleh melarang segala perbuatan baik atau buruk
hamba, tidak boleh marah dan mengucapkan kata yang bisa membuat hamba sedih.
Jika Paduka melanggar salah satu syarat hamba, maka hamba akan meninggalkan Paduka.
Bersediakah Paduka memenuhi syarat hamba? ".
Maharaja Sentanu yang terpikat oleh kecantikan Dewi Gangga
pun bersumpah tidak akan melanggar syarat itu. Akhirnya menikahlah Maharaja
Sentanu dengan Dewi Gangga dan menjalani kehidupan yang bahagia.
Dari pernikahan itulah, Dewi Gangga mengandung dan
melahirkan banyak anak. Namun Maharaja Sentanu sedih karena setiap kali
melahirkan, Dewi Gangga membuang bayi tersebut ke Sungai Gangga. Namun ia
teringat akan sumpahnya dan terpaksa mengiyakan perbuatan istrinya yang dinilai
sangat kejam itu.
Ketika Dewi Gangga melahirkan bayi yang ke delapan, dan akan
membuangnya ke sungai, Maharaja Sentanu tidak kuat menahan beban hatinya.
" Hentikan istriku! Apa engkau tidak tahu perbuatanmu itu
sangat berdosa dan kejam! Tegakah kau membuang darah dagingmu sendiri?!"
" Suamiku, engkau telah melanggar sumpahmu! Hatimu
telah tertambat pada anak ini, maka aku sudah tidak dibutuhkan lagi, aku akan
pergi. Namun janganlah engkau menghakimi aku sebelum mendengar penjelasanku
"
Dewi Gangga segera menjelaskan apa yang terjadi pada delapan
para wasu dan siapa dirinya sebenarnya.
" Dengan menikah denganmu, aku melahirkan mereka. Atas
jasamu engkau akan mendapat tempat paling tinggi kelak di alam baka. Aku tidak
akan membunuh bayi ini, namun aku akan membawanya dan membesarkannya. Ketika
dewasa nanti aku akan memberikan kembali padamu anak ini"
Setelah berkata demikian, menghilanglah Batari Gangga
bersama bayinya.
Setelah menghilangnya istri dan anaknya, Maharaja Sentanu
kembali menjalani kehidupannya, memerintah kerajaannya, dan meninggalkan hasrat
dunianya.
Suatu hari ketika ia berjalan - jalan di sekitar Sungai
Gangga, ia melihat seorang anak laki - laki yang sangat rupawan dan dilingkupi
keelokan Dewandra, raja para dewa - dewi. Anak itu sedang bermain panah dan
melepaskan anak panah dengan ketangkasannya. Melihat hal tersebut Maharaja
Sentanu takjub. Dan tiba - tiba di hadapannya muncul Dewi Gangga.
" Paduka, itulah anak kita yang kedelapan. Kunamai
Dewabrata. Ia telah ku ajarkan seni perang. Kesaktiannya setara dengan Parasurama.
Ia telah mempelajari Kitab Weda dan Wedanta dari Resi Wasistha. Ia juga mengusai
kesenian dan ilmunya Sukra. Terimalah anak itu. Kelak dia akan menjadi pahlawan
dan negarawan besar "
Setelah memberkati anak itu, Batari Gangga kemudian
menyerahkan anak itu kepada ayahnya, Maharaja Sentanu, dan menghilang.
Kelak anak itu akan menjadi
dikenal dengan nama Bhisma
Tidak ada komentar :
Posting Komentar