Rabu, 12 Februari 2014

Lahirnya Sang Bhisma



Suatu hari di pegunungan tampaklah delapan wasu sedang berjalan - jalan dengan para istri mereka. Di pegunungan itu terdapat pertapaan Resi Wasistha. Salah satu dari mereka melihat seekor sapi milik Sang Resi yang elok rupawan. Nandini nama sapi tersebut. Salah satu istri mereka tertarik melihat keelokan sapi tersebut dan membujuk suaminya untuk membawa pulang sapi itu.
" Istriku, sapi itu milik Resi Wasistha, penguasa daerah ini. Tentu sapi ini bukan sapi biasa. Manusia akan abadi jika meminum susu sapi itu. Tapi kita para dewa, kita telah ditakdirkan abadi. Lalu apa gunanya sapi itu untuk kita? Lagipula Resi Wasistha akan marah melihat kita menuruti hawa nafsu dan kita akan celaka ". Jawab sang suami.
" Tapi suamiku, aku punya teman seorang manusia yang sangat aku sayangi. Untuknya lah aku memohon kepadamu, suamiku. Kita bawa lari sapi itu sebelum Resi Wasistha muncul. Ayolah suamiku, ini sangat berarti untukku ".
Akhirnya dengan segala bujuk rayu sang istri, Sang wasu pun mengabulkan permintaan istrinya. Kedelapan wasu tersebut bersama - sama melarikan Nandini dan anaknya jauh - jauh.
Resi Wasistha sangat terkejut tidak menemukan Nandini dan anaknya ketika kembali ke pertapaannya. Padahal sapi itu sangat dibutuhkan dalam upacara persembahan hariannya. Dengan segala kekuatan yoganya, Resi Wasistha pun mengetahui apa yang terjadi dengan sapinya. Ia sangat murka dan mengutuk para wasu yang telah melarikan sapinya. Ia mengutuk para wasu akan terlahir ke dunia dan menjadi manusia.
Para wasu yang mengetahui mereka telah dikutuk oleh Resi Wasistha menyesal atas perbuatannya. Mereka bersimpuh menyembah dan memohon ampunan Resi Wasistha.
" Kutukku telah terucap dan akan terjadi pada saatnya nanti. Wahai Prabhasa, wasu yang membawa lari sapiku, engkau akan menjalani kehidupan panjang di dunia. Dan kalian wesu yang lain, setelah kalian terlahir di dunia, kalian akan bebas dari kutukanku. Aku tidak dapat mencabut kutukanku ". Jawab Resi Wasistha dan segera berkonsentrasi melanjutkan tapa brata.
Mendengar jawaban Resi Wasistha, para wasu tersebut segera menemui Batari Gangga dan memohon menjadi ibu mereka.
" Wahai Batari Gangga, sudilah kiranya Batari Gangga turun ke bumi dan menikahi seorang pria yang bermartabat. Lahirkanlah kami, jadilah ibu kami. Setelah kami lahir, buanglah kami ke Sungai Gangga, dan kami lepas dari kutukan ".
Betari Gangga pun mengabulkan permohonan para wasu dan segera turun ke dunia. Di dunia ia menjelma menjadi Dewi Gangga yang sangat cantik.
Suatu hari Dewi Gangga bertemu dengan Maharaja Sentanu. Maharaja Sentanu pun terpikat dengan kecantikan Dewi Gangga yang sangat luar biasa. Maka ia pun meminta Dewi Gangga menjadi permasurinya.
" Wahai Paduka, aku bersedia menjadi permaisuri Paduka, tetapi Paduka harus memenuhi syarat hamba "
" Apa syarat itu ? "
" Paduka tidak boleh menanyakan seluk beluk hamba, siapa hamba, darimana asal hamba. Tidak ada yang boleh satupun mengetahui seluk beluk hamba. Paduka tidak boleh melarang segala perbuatan baik atau buruk hamba, tidak boleh marah dan mengucapkan kata yang bisa membuat hamba sedih. Jika Paduka melanggar salah satu syarat hamba, maka hamba akan meninggalkan Paduka. Bersediakah Paduka memenuhi syarat hamba? ".
Maharaja Sentanu yang terpikat oleh kecantikan Dewi Gangga pun bersumpah tidak akan melanggar syarat itu. Akhirnya menikahlah Maharaja Sentanu dengan Dewi Gangga dan menjalani kehidupan yang bahagia.
Dari pernikahan itulah, Dewi Gangga mengandung dan melahirkan banyak anak. Namun Maharaja Sentanu sedih karena setiap kali melahirkan, Dewi Gangga membuang bayi tersebut ke Sungai Gangga. Namun ia teringat akan sumpahnya dan terpaksa mengiyakan perbuatan istrinya yang dinilai sangat kejam itu.
Ketika Dewi Gangga melahirkan bayi yang ke delapan, dan akan membuangnya ke sungai, Maharaja Sentanu tidak kuat menahan beban hatinya.
" Hentikan istriku! Apa engkau tidak tahu perbuatanmu itu sangat berdosa dan kejam! Tegakah kau membuang darah dagingmu sendiri?!"
" Suamiku, engkau telah melanggar sumpahmu! Hatimu telah tertambat pada anak ini, maka aku sudah tidak dibutuhkan lagi, aku akan pergi. Namun janganlah engkau menghakimi aku sebelum mendengar penjelasanku "
Dewi Gangga segera menjelaskan apa yang terjadi pada delapan para wasu dan siapa dirinya sebenarnya.
" Dengan menikah denganmu, aku melahirkan mereka. Atas jasamu engkau akan mendapat tempat paling tinggi kelak di alam baka. Aku tidak akan membunuh bayi ini, namun aku akan membawanya dan membesarkannya. Ketika dewasa nanti aku akan memberikan kembali padamu anak ini"
Setelah berkata demikian, menghilanglah Batari Gangga bersama bayinya.
Setelah menghilangnya istri dan anaknya, Maharaja Sentanu kembali menjalani kehidupannya, memerintah kerajaannya, dan meninggalkan hasrat dunianya.
Suatu hari ketika ia berjalan - jalan di sekitar Sungai Gangga, ia melihat seorang anak laki - laki yang sangat rupawan dan dilingkupi keelokan Dewandra, raja para dewa - dewi. Anak itu sedang bermain panah dan melepaskan anak panah dengan ketangkasannya. Melihat hal tersebut Maharaja Sentanu takjub. Dan tiba - tiba di hadapannya muncul Dewi Gangga.
" Paduka, itulah anak kita yang kedelapan. Kunamai Dewabrata. Ia telah ku ajarkan seni perang. Kesaktiannya setara dengan Parasurama. Ia telah mempelajari Kitab Weda dan Wedanta dari Resi Wasistha. Ia juga mengusai kesenian dan ilmunya Sukra. Terimalah anak itu. Kelak dia akan menjadi pahlawan dan negarawan besar "
Setelah memberkati anak itu, Batari Gangga kemudian menyerahkan anak itu kepada ayahnya, Maharaja Sentanu, dan menghilang.
Kelak anak itu akan menjadi dikenal dengan nama Bhisma

Tidak ada komentar :

Posting Komentar